Dropship: Begini Cara Mengelola Pengembalian Barang

drop-ship-c

Drop shipping memerlukan integrasi dari tiga data utama antara retailer dan supplier yaitu katalog produk, inventory, dan order.

Mengelola data katalog produk dimulai dengan premis bahwa dalam drop shipping antara seller-retailer harus memiliki data virtual. Katalog produk berisi kumpulan data deskriptif seperti judul, merek, kategori, atribut, gambar, dan yang lainnya.

Mengelola visibilitas persediaan produk (inventory) adalah proses yang memberitahu kita di mana item tersebut, berapa banyak yang ada, dan berapa biayanya untuk reseller.

Mengelola orders adalah proses ketika konsumen melakukan pembelian produk secara online dari retailer dan melengkapi informasi yang diperlukan untuk kemudian dikirimkan ke supplier yang memiliki produk fisik tersebut untuk dikirimkan ke konsumen.

1. Pengembalian barang untuk drop shipping rumit

Proses pengembalian barang untuk bisnis ecommerce sedikit lebih rumit dibandingkan dengan toko fisik. Untuk drop shipping, pengembalian produk juga semakin kompleks. Tapi dengan melihat presentase beberapa pengembalian produk online yang mendekati 25 persen, kita perlu mencari tahu strategi untuk menangani pengembalian produk dalam drop shipping, karena hal itu pasti akan terjadi. Mengatur kebijakan dan strategi yang baik bisa dikoordinasikan antara retailer dan suppliers untuk memastikan kepuasan konsumen.

Berikut adalah daftar beberapa daftar yang bisa dikoordinasikan antara retailer dan supplier untuk kebijakan pengembalian produk.

  • po_number. Identifier unik untuk order yang dihasilkan oleh sistem retailer dari original order.
  • rma_number. Identifier unik untuk pengembalian yang dihasilkan oleh supplier.
  • order_return_reason. Alasan order dikembalikan.
  • line_item_sku. SKU yang direferensikan dengan update.
  • line_item_return_reason. Alasan line_item_sku dikembalikan.
  • line_item_quantity. Kuantitas yang diharapkan akan dikirimkan dalam pengembalian.
  • line_item_condition. Kondisi dari line_item_sku tersebut. Apakah baru, digunakan, atau rusak.
  • note. Catatan tambahan tentang item yang dikembalikan.
  • return_attention. Nama atau judul dari item yang dikembalikan.
  • return_company. Nama perusahaan yang bersangkutan.
  • return_address_1. Alamat pertama yang dituju.
  • return_address_2. Alamat kedua yang dituju.
  • return_city. Nama kota.
  • return_region. Nama daerah.
  • return_postal. Kode pos.
  • return_country. Negara asal, menggunakan 2 karakter kode negara sesuai standar ISO.
  • return_phone. Nomor telepon.
  • ship_carrier. Nama jasa layanan pengiriman yang di rekomendasikan, misalnya FedEx, UPS, USPS.
  • ship_method. Metode pengiriman yang diminta.
  • return_tracking_number. Nomer pelacakan item yang dikembalikan.
  • return_ship_cost. Biaya untuk pengembalian.
  • return_ship_date. Tanggal untuk pengembalian.
  • return_ship_carrier. Jasa pengiriman pengembalian.
  • return_ship_method. Metode pengiriman aktual untuk pengembalian.
  • return_received_on_date. Tanggal pengembalian yang diterima oleh supplier.

2. Pastikan sukses

Retailers dan suppliers yang paling sukses dalam menangani pengembalian dengan drop-shipped adalah mereka yang bekerja keras pada data workflows dan proses, terutama katalog produk dan inventory. Untuk membangun strategi pengembalian terbaik adalah dengan pencegahan.

Pelanggan mengembalikan produk adalah ketika mereka kecewa dengan pembeliannya. Dalam hal ini, biasanya alasan utama pengembalian adalah “Pelanggan memasan produk atau kuran yag salah” dan “Produk tidak sesuai dengan deskripsi di website atau katalog”.

Pembeli ingin benar-benar mempertimbangkan sebelum mereka membeli. Memiliki foto yang tepat dan deskripsi produk yang informatif mungkin akan bisa mengurangi jumlah pengembalian produk. Jadi, penting bagi retailer dan supplier bekerja sama untuk menampilkan representasi produk yang tebaik, paling lengkap, dan akurat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *